Kamis, Januari 15, 2009
Jangan Menaruh Penis Sembarangan!
Gara-gara saya berada di rumah lebih lama, saya sering terjerumus (kadang sengaja menjerumuskan diri) dalam rumpian bersama ibu-ibu tetangga. Dari obrolan itu, saya kerap mendengar cerita-cerita yang mengejutkan. mungkin tidak terlalu mengejutkan, tapi saya pura-pura atau kadang terpaksa terkejut. berikut petikan cerita tersebut dan cerita dari obrolan lain, yang saya sajikan ke dalam sebuah alur cerita. tentu saja, dengan tambalan sana-sini (hahah...namanya juga ngerumpi), tapi tak mengurangi makna dan fakta di dalamnya. sebagai amatir dalam menulis, alur dan penokohan dalam cerita ini mungkin tak pantas disandingkan dengan penulis lain.

cerita #1 (teman saya sewaktu SD)
Sebut saja saya Nunu (bukan nama sebenarnya), 23 tahun. Saya adalah seorang sopir dan menyambi bekerja serabutan. saya memiliki seorang istri dan bayi yang baru berumur 2 bulan. saya mencoba membangun sebuah keluarga bahagia layaknya suami-suami lain. kisah hidup saya pasti akan lain jika tidak secara kebetulan saya bertemu yeni (nama samaran) lima bulan lalu. kala itu, saya harus mengangkut barang dagangan ke sebuah toko di mana Yeni bekerja. Perkenalan saya dengan Yeni terjadi begitu saja seiring seringnya saya mengangkut barang ke tokonya. tubuhnya yang singset dan senyum genitnya selalu menyapa setiap kali saya datang. Lelaki mana yang tak akan menggoda sekadar iseng atau memang memiliki maksud kepadanya? Yeni tak pernah menyembunyikan malu kepadaku. Perut saya kerap menjadi sasaran cubitannya setiap kali rayuan mautku terlontar.
Ah, Yeni pun tak menolak ketika saya ajak melihat pantai suatu kali. Sebuah senja dimana matahari memerah di langit, mengertapkan warna emas di hamparan luas air kelabu. Sebuah senja sempurna untuk saya dan Yeni. Saya hanya ingin melepaskan penat hasil dari seharian mengangkut barang ke toko, bersama Yeni. Dia lah yang menemani saya menghabiskan waktu yang sangat singkat menikmati keindahan senja sebelum bergulir malam. angin dingin segera menyambut ketika warna merah terakhir menyemburat di langit abu-abu. sesegera itu pula gerimis datang. Kami lari menuju sebuah rumah terdekat untuk berteduh. kian malam, hujan kian lebat, sementara badan ini rasanya berat untuk menempuh perjalanan tiga jam ke rumah istri. Saya putuskan beristirahat sebentar di rumah itu yang biasa menyewakan kamar untuk pengunjung pantai. Ah Yeni, ia masih mau memijat badan saya yang lelah.
Semenjak pulang dari pantai kala itu, kami jadi kerap menghabiskan waktu dalam senja di pinggir pantai itu di kala-kala lain. Berangkat sore, menghabiskan senja sehabis-habisnya, sampai merah berubah kelabu sampai menghitam kemudian. Saya hanya ingin melepaskan penat bersama Yeni, itu saja. setelah itu, Saya masih pulang ke rumah untuk istriku.
Saya masih pulang sebelum Yeni mengatakan pada istri saya jika sudah terlambat bulan. orangtua saya marah besar. lebih-lebih Ayah Yeni yang sempat mendaratkan jotosan ke pipi saya. Mertua saya malah langsung meminta istri saya dipulangkan. Saya tahu, saya memiliki bayi yang harus diberi makan. saya pun sangat tahu jika istri saya menangis menahan sakit di batinnya. namun, saya juga tahu ada benih saya di rahim Yeni. Saya hanya tak tahu mesti berbuat apa.

cerita #2 (temannya teman, teman saya kuliah)
Saya tidak cukup terkejut ketika Tika (nama samaran) mengatakan sedang hamil. Dia kerap kali bercerita tentang pengalamannya bersama laki-laki, tak hanya dengan saya. Bukan suatu hal yang menarik untuk diceritakan, tapi bagi Tika tak ada yang lebih menarik diceritakan selain penis laki-laki. Saya enggan mendengar ceritanya sampai dia meminta tolong padaku. Sebuah permintaan yang menimbulkan banyak pertanyaan dalam benakku. Saya yang tidak pernah merasa dekat dengannya, dimintai tolong mencarikan dukun. Saya heran dan bingung mengapa Tika meminta tolong padaku. "Apakah saya memiliki tampang yang memiliki kecenderungan kenal dengan seorang dukun, penggugur kandungan?" Tapi pertanyaan itu lantas kabur begitu saja saat saya tahu, banyak teman yang dimintai tolong.
"Tik, lo gak pake pengaman tiap kali gituan?"
"Biasanya juga gak pernah jadi kok. Sejak SMA gak pernah kejadian tu. kali ini aja kena sial,"
"lo tau nggak tik tu bapaknya bebi siapa?"
"nah, itu masalahnya gue nggak tahu. makanya lebih baik gue gugurin daripada ribet nyari bokapnya,"
"tau ribet, kenapa lo masih nglakuin juga,"
"habis enak sih," ujar Tika nyengir.

cerita #3 (teman yang lain)
Sudah berkali-kali saya bilang sama Mimi kalau dia masih suci. berkali-kali pula dia menolak kalimat saya itu. dia bersikeras sudah saya tiduri. Bah, Saya jelas menolak kalau saya pernah meniduri mantan pacar saya itu. Saya berani sumpah bahwa malam itu saya tidak sampai masuk. Artinya, mantan saya itu masih suci kalau dia tidak pernah melakukan sebelumnya. Saya bingung ketika Mimi minta pertanggungjawaban atas perbuatan saya itu. Saya tanya dia, "emang aku ngapain kamu?" Dia tetap berkeras, "Kamu sudah meniduri aku, jadi kamu harus tanggung jawab"
"aku harus tanggung jawab bagaimana?"
"nikahi aku"
Mimi mungkin sudah gila semenjak saya memutuskan hubungan kami. Saya memang pernah mengatakan akan menikahinya tetapi bukan berarti sekarang, bukan? Saya masih sangat muda, bahkan kuliah saja belum kelar. Bagi saya, Mimi memang masih suci. Saya sangat sadar kala itu, kami hanya saling telanjang, tidak lebih. Bahkan, saya mengeluarkannya di kamar mandi. Saya memang menciumnya, tapi bukan berarti saya harus menikahinya karena itu, bukan? Saya yakin bahwa dia tidak akan hamil, karena saya menghormati keperawanannya. Toh, kita melakukannya karena sama-sama butuh dan mau. Dia tidak menolak kala bajunya saya buka semua. Aneh bagi saya, ketika Mimi minta dinikahi kala saya memutuskan hubungan.


Tiba-tiba saya bingung. bagaimana kalau semua cerita itu saya kasih judul "Petualangan Penis" (terinspirasi Petualang Celana Dalam). Hah, saya menghembuskan napas panjang ketika menyelesaikan menulis cerita ini. Sebeginikah gampang penis itu berpetualang tanpa pertimbangan dari sang pemilik? (ok, mungkin para pemilik penis itu bisa bilang, "Sebegini mudahkah Vagina diserahkan tanpa pemikiran panjang pemiliknya?")
Dengan berbagai pertimbangan, saya lebih mempertanyakan kemudahan bagi lelaki untuk menaruh penisnya sembarangan lalu pergi. Meski mungkin sama-sama suka, butuh, dan mau, tetapi kebanyakan perempuan yang menanggung dampak jangka panjangnya. seandainya saya lelaki, saya bisa langsung pergi begitu saja, bukan? kalau saya tidak mau bertanggungjawab, saya tinggal bilang, "anak itu bukan anakku." lebih-lebih perempuan yang senang berganti-ganti pasangan itu akan lebih mudah lagi. kalau saya tidak mau bertanggung jawab, lalu kamu (perempuan) bisa apa?
dalam cerita #1, istri sopir itu harus menanggung derita karena perbuatan suaminya. Ia harus bercerai dan membesarkan bayi yang baru berusia 2 bulan itu tanpa dampingan suami lagi.
dalam cerita #2, memang cerita ini agak aneh. Perempuan itu mungkin maniak seks, tetapi jalan menggugurkan bayinya itu, bukankah membahayakan si perempuan itu sendiri?
dalam cerita #3, enaknya jadi lelaki. Ada cara jitu bagi kalian agar terhindar dari tanggungjawab kala perempuan menuntutnya. Pastikan saat anda berhubungan, perempuan itu tidak hamil atau bahkan tidak usah dimasukkan sekalian. Anda tinggal bilang, "kamu kan masih suci". Sesederhana itukah kesucian diartikan? Sementara perempuan mungkin harus menanggung trauma sepanjang hidupnya.

Huh...saya tidak ingin menyalahkan laki-laki, saya hanya ingin mempertanyakan mengapa laki-laki tidak sama-sama menanggung akibat perbuatannya? sama-sama enak, butuh, dan mau, tapi mengapa harus perempuan yang lebih panjang merasakan akibatnya? Jika memang demikian adanya, Jangan Menaruh Penis Sembarangan!
posted by Sketsa Biru @ 17:35  
0 Comments:
Poskan Komentar
HOME
 
HOME
About Me

Saya: Sketsa Biru
Naungan: Indonesia
Inilah Saya: kind of a good girl
See my complete profile
Previous Item
Blog Archives
Shout Box


Free shoutbox @ ShoutMix

Friends
Powered by

BLOGGER