|
|
Kamis, Januari 08, 2009 |
|
Tentang Perempuan, Sebuah Cerita Tanpa Akhir |
Saya pengen menulis tentang perempuan, yang semoga terkumpul menjadi buku. Tulisan itu berangkat dari sebuah obrolan yang membuat saya berpikir tentang gender. Suatu momen, saya mengobrol dengan laki-laki yang baru saya kenal. Kami membahas tentang bissu, laki-laki yang berperilaku dan berpenampilan layaknya wanita. Mereka menjadi pemimpin upacara adat di dalam komunitasnya. Teman saya itu mengatakan, "Dengan adanya bissu itu, sebenarnya pembicaraan gender di Indonesia telah selesai karena telah ada penghormatan bagi transgender." Mendengar itu, saya langsung ngotot menolak. Lha kok masalah gender dianggap selesai dengan pandangan yang sesederhana itu. Tidak mau terlalu berapi-api, saya bilang saja "belum dong, konteks mereka kan sebagai pemimpin adat (yang tentu akan dihormati dalam komunitasnya)". Saya tambahkan lagi, mereka juga hanya diekslploitasi untuk tampil dalam upacara yang digelar untuk pariwisata (dimana bagi saya, mereduksi kesakralan upacara adat). Posisi Bissu pun hanya menjadi ikon (pelengkap) dalam upacara untuk menghibur khalayak.
Mungkin teman saya itu memiliki penjelasan yang lebih komprehensif tentang pernyatannya itu. Tapi belum sempat ia menjelaskan, seorang teman yang lain sudah mengakhiri, "sudahlah pandangan kalian itu sudah beda." Nah, itu lah... bagi saya, jangan anggap selesai masalah gender karena masih banyak perbedaan pandangan. Tetapi bukan berarti masalah selesai dengan adanya persamaan pandangan. Maksud saya, perbedaan pandangan menghasilkan permasalahan yang berbeda pula. semakin banyak cara pandang, maka semakin banyak pula masalah. Meski satu masalah, jika dipandang dari cara yang berbeda-beda, bukankah masalah itu akan menjadi banyak? Inilah yang akan membantu penyelesaian masalah lebih komprehensif dan holistik karena tidak hanya menyelesaikan pada satu sisi. Jadi ya, bagi saya pembicaraan gender tidak akan pernah selesai jika hanya dilihat dari satu sudut pandang. Dari sini, saya mulai berpikir, apa permasalahan tentang gender itu tak banyak disuarakan, atau ada yang terbungkam, sengaja disembunyikan atau bahkan mungkin ada yang belum disentuh? Di Indonesia memang sudah sangat riuh pembahasan tentang gender, problematika dan pemecahannya. Entah, hal apa yang membuat gender kadang-kadang bisa dikatakan selesai dengan contoh yang sangat sederhana. (MAAF KAWAN, bukan maksud menyalahkan, saya menolak kan belum tentu karena kamu salah dalam memberikan konklusi, siapa tau memang pengetahuan saya yang tidak mencukupi)
Saya masih menolak pernyataan itu karena semakin banyak bukti yang menunjukkan pembahasan gender belum selesai di Indonesia ini. Budaya patriarki masih mengakar kuat di negeri ini, kawan!! Suatu kali, saya menyaksikan berita, cerita tentang perempuan di suatu daerah NTT. Bahkan, soal yang umum tentang persamaan hak pendidikan bagi lelaki dan perempuan, masih ada ketimpangan. Perempuan mana di zaman sekarang yang tidak bersekolah hanya karena dilarang orangtua dengan alasan "buat apa perempuan sekolah tinggi, toh nanti kawin, kembali ke dapur"? Tapi kawan, hal itu masih benar-benar terjadi di NTT. Beginikah yang dianggap selesai? Bukan emosi kawan, tetapi mencoba menolakmu, HAHAHA. Mungkin, teman saya itu membahas gender dalam konteks transgender. Tapi lihatlah, berapa orang yang mencibir kehadiran banci di prapatan? Lihatlah pula komedi di TV Indonesia itu. Banci menjadi bahan olokan dan diposisikan pantas untuk ditertawakan. Ini beda dengan TV di Amerika. Oprah Show pernah menampilkan seorang laki-laki yang telah menikah kemudian mengganti identitasnya menjadi perempuan. Ia berdandan dan berperilaku layaknya perempuan. Namun, ia masih diterima anak-anaknya, bahkan istrinya sebagai ayah sekaligus ibu, dan suami sekaligus istri (?) (bagian dari keluarga)? Bagi saya, inilah penghormatan bagi transgender. Ia tak dikucilkan karena pilihannya. Ah, saya jadi tertantang untuk mencari bagaimana sikap keluarga Indonesia jika tahu ayah atau anaknya memilih transgender sebagai jalan hidup?
ya....bagi saya, membicarakan gender terlebih tentang perempuan, adalah cerita yang tak pernah (belum) selesai.... (tapi saya berharap tidak usah selesai, biar kita terus bertumbuh)
Btw, jadi kangen ngobrol dengan teman itu. Selepas demisioner dari Bal, saya kehilangan atmosfer diskusi. (KANGEN NGOTOT2an yang kadang2 dipaksakan untuk dibilang cerdas :)...)
|
posted by
Sketsa Biru @ 18:42
 |
|
|
|
|
|