|
|
Minggu, Februari 01, 2009 |
|
Menjadi Perempuan |
saya sedang kebingungan untuk mengidentifikasi ke-perempuan-an saya. bukan masalah tanda biologis yang sedang saya permasalahkan. namun, penanda yang kerap dilekatkan dalam diri saya sangat membingungkan. kadangkala, saya diberi label feminin karena sebuah penampilan di suatu hari. lain hari, saya bisa tidak feminin. lantas, apakah sedemikian besar pengaruh penampilan terhadap penanda ke-perempuan-an? dan apakah perempuan bisa disebut "perempuan" hanya jika ada penanda itu? beberapa saat yang lalu, saya mendapat sms dari salah satu teman yang menyoal make up (sebagai salah satu pendukung penampilan). ini yang kemudian menggelitik saya untuk melihat begitu banyak penanda pada perempuan. saya kira masalah make up bagi perempuan adalah awam, meski tidak bagi saya (mungkin belum). tujuannya, membuat cantik. Bagi saya cantik itu adalah sebuah konstruksi (bukan relatif). Untuk disebut cantik maka perempuan itu harus memiliki beberapa kriteria; putih,alis mata lentik,bibir merah, pipi merona, hidung mancung, dll. perempuan cantik dikonstruksi sedemikian sehingga mau tidak mau seorang perempuan harus membuat dirinya putih dan seterusnya itu. ia tak memiliki pilihan karena memerangkap dirinya sendiri dalam penanda cantik itu. perempuan adalah obyek bagi sebuah proyek besar bagi industri kapitalisme. untuk make up saja, akan begitu besar pengeluaran seorang perempuan untuk sekadar dibilang cantik. perempuan yang bermake up setidaknya membutuhkan barang-barang berikut; pelembab wajah, alas bedak, bedak, eyeshadow (yang entah berapa warna), pensil alis, eye liner, maskara, bulu mata palsu, blus on, konselor, lipstik, lip liner, lip gloss, dll. sedemikian banyak produk untuk membuat seorang perempuan untuk sekadar dibilang cantik. tak ayal, industri kosmetik maju pesat karena penanda ke-perempuan-an ini. bahkan, tak jarang perempuan mau mengeluarkan uang lebih untuk membeli produk-produk terkenal seperti bodyshop (masak pelembab wajah 100ml sampai 100 ribu lebih, geleng2 kepala menjadi perempuan). Simone de beauvoir dalam the second sex-nya mengatakan, "one is not born, but rather becomes, a women". ya, seorang perempuan bukan dilahirkan tetapi ia adalah seseorang dibentuk menjadi perempuan. perempuan bukan kodrati,melainkan proyek menjadi perempuan untuk terus menjadi dan menghasilkan seorang perempuan. Dada yang menonjol dan memiliki uterus adalah kodrati perempuan, tetapi perempuan itu feminin (dengan berbagai penandanya) adalah bukan kodrat. Ketika industri kosmetik dengan iklan manipulasinya itu menyebar gaya hidup, maka semakin sulit (mahal) untuk menjadi perempuan. Iklan itu memerangkap dengan pembentukan citra menjadi perempuan. Tubuh perempuan dicitrakan sedemikian untuk dibilang cantik setelah menggunakan produk kosmetik industri tadi. berbondong-bondonglah individu yang tertarik untuk menjadi perempuan membeli produk tersebut. Tubuh perempuan dengan banyak penanda untuk disebut perempuan itu, bagi Beauvoir bukanlah wadah yang memerangkap dan membatasi. Tetapi tubuh merupakan "grasp", suatu sentuhan kepada dunia. Hanya itu. Kemudian, mengapa wajah ini harus berbedak, bibir harus berlipstik, kelopak mata warna-warni, untuk menjadi perempuan (cantik)?
|
posted by
Sketsa Biru @ 20:55
 |
|
|
|
|
|